Harga Cabai Meningkat

>> Senin, 19 Januari 2009

Harga cabai merah melambung dalam seminggu terakhir. Hal ini diakibatkan minimnya pasokan cabai dari sejumlah petani di Aceh Utara, Lhokseumawe dan Aceh Tengah.

Saat ini, harga cabai merah mencapai Rp40 ribu per kilogram dari harga sebelumnya Rp20 ribu per kilogram. Sedangkan cabai hijau naik menjadi Rp25 ribu dari sebelumnya Rp18 ribu per kilogram.

“Sudah harga mahal, kualitas cabainya rendah. Banyak yang busuk,” kata Rosniati, pedagang di Pasar Inpres Lhokseumawe, Senin (29/12). Dia menyebutkan, saat ini semua pasokan cabai kualitasnya rendah. Jika agak bagus, maka harganya mencapai Rp55 ribu per kilogram.

Sementara itu, untuk cabai rawit harganya mencapai Rp26 per kilogram dari sebelumnya hanya Rp 21.500 per kilogram. Rosni menyebutkan, kualitas cabai yang rendah mengakibatkan para pedagang sulit melakukan penjualan. Umumnya, pembeli hanya membeli cabai dalam partai kecil.

Kelangkaan cabai di Aceh Utara diduga karena sejumlah areal pertanian cabai di kabupaten itu terendam banjir besar beberapa waktu lalu. “Mungkin dalam dua minggu ke depan akan normal kembali. Itu pun kalau ada pasokan dari Bener Meriah dan Aceh Tengah,” terang Rosni. (hi)

http://aceh-economic-review.com/nanggroe/harga-cabai-meningkat

Read more...

Pasokan Menipis, Harga Pala Melonjak

LHOKSEUMAWE-AER
Harga biji pala di Kota Lhokseumawe melonjak tajam. Dari harga sebelumnya Rp 20 ribu per kilogram, kini menjadi Rp 40 ribu per kilogram. Hal ini menyusul minimnya pasokan biji pala dari daerah penghasil Pala, Aceh Selatan, ke Kota Lhokseumawe.

Aiyub (26 Tahun), pedagang rempah-rempah, di Pasar Inpres Lhokseumawe, kemarin, menyebutkan, selain tipisnya pasokan dari Aceh Selatan, produk pala lokal juga tak bisa diharapkan. Biasanya, pala dipasok dari Kecamatan Nisam dan Kecamatan Simpang Keuramat, Aceh Utara. “Sedikit sekali pasokan pala sekarang. Kondisi ini sudah terjadi selama dua bulan. Jadi harganya pun terus melonjak,” katanya.

Ia mengatakan, kondisi kelangkaan biji pala akibat menipisnya pasokan sering kali terjadi di Lhokseumawe. “Kalau ada petani lokal yang khusus menanam pala pasti tidak akan terjadi kelangkaan seperti ini. Sekarang untuk pasokan lokal saja tidak mencukupi,” ujarnya. (hi/rz)

Read more...

Irwandi: Dunia Investasi Mulai Bangkit di Aceh

Irwandi: Dunia Investasi Mulai Bangkit di Aceh

Banda AcehIAER

Hingga akhir tahun 2008 lalu, jumlah investor yang berkembang di provinsi Aceh mencapai 265 perusahaan, baik nasional maupun internasional. Hal ini terbukti dengan semakin menggeliatnya dunia investasi di bumi serambi mekkah.

“Meski tidak semua perusahaan bergerak secara lancar, bahkan masih ada sebagian dalam tahap perencanaan, tetapi kita harus mengakui minat investor semakin tinggi, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya,” kata Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, Kamis (15/1).

Menurut Irwandi, khusus untuk perencanaan investasi asing terdapat kenaikan yang signifikan, yakni mencapai 97 persen pada tahun 2008 lalu. Setidaknya kondisi Aceh sudah cukup kondusif bagi dunia usaha. “Jika dunia internasional sudah melihat potensi Aceh ke depan, tentunya investasi penanaman modal dalam negeri akan semakin lebih membaik lagi,” ujar Irwandi.

Gubernur menyebutkan, ada beberapa indikator yang menjadi rujukan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dalam memberikan penilaian positif tentang perbaikan ekonomi Aceh. “Indikatornya yaitu kenaikan investasi, pertumbuhan ekonomi, ekspor impor dan daya beli masyarakat sehingga menunjukkan sisi positif,” urainya.

Menurut Irwandi, tiga tahun lebih lamanya masyarakat Aceh menikmati perdamaian. Dengan perlahan tapi pasti perubahan demi perubahan telah mewujudkan Aceh menjadi wilayah aman dan damai. “Anggapan ini bukan hanya pembelaan normatif dari kami selaku Kepala Daerah Provinsi Aceh, tetapi juga penilaian yang objektif oleh tim ahli BKPM pusat beberapa waktu lalu,” kata Gubernur Aceh.

Ia turut mengimbau elemen masyarakat agar mendukung sepenuhnya perkembangan industri di Aceh yang tidak hanya berorientasi profit semata, melainkan juga berperan dalam penyerapan tenaga kerja putra daerah dan tentunya akan membangun Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal.(Isra)

Read more...

Musim Kering, 2000 Hektar Sawah Gagal Semai

>> Senin, 12 Januari 2009

Lhoksukon.
Sebanyak 2000 hektar sawah di tiga gampong dalam Kecamatan Lhoksukon, hingga saat ini masih menanti air hujan. Dikarenakan jarang hujan, sawah di kawasan tersebut sering gagal panen. Bahkan, kini warga setempat gagal melakukan penyemaian.
Tiga gampong dimaksud yakni Cot Gunci, Blang Aman, dan Cot U Sibak. Warga mengaku selama ini mereka hanya bisa turun ke sawah setahun sekali, yakni saat memasuki musim hujan.

“Kebutuhan air tak bisa dikontrol dan tidak mencukupi. Selama puluhan tahun, kami di tiga kampung ini belum pernah mendapat hasil yang mencapai titik maksimal seperti kampung-kampung lain yang sawahnya mempunyai irigasi,” ujar Geuchik Blang Aman, Dahlan Syahril, Ahad (11/1).
Kata Dahlan, sekitar 330 kepala kelurga (KK) di tiga gampong tersebut mayoritasnya berprofesi sebagai petani sawah. Menurut dia, persoalan tak ada irigasi di sana disebabkan pembangunan irigasi dari Kecamatan Langkahan yang menyambung sampai ke Kecamatan Lhoksukon terhenti untuk tiga gampĂ´ng tersebut.
“Warga hanya berharap dari hasil sawah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Jika terjadi gagal panen seperti beberapa waktu lalu, bagaimana warga bisa hidup sejahtera?” tanya Dahlan.
aceh-economic-review.com

Read more...

UMP Aceh Terbesar di Indonesia

Jakarta boleh jadi kota terbesar, terpadat, dan termaju di Indonesia. Namun, untuk urusan upah minimum provinsi (UMP), ternyata UMP Jakarta masih jauh lebih rendah di banding Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Papua Barat.

Data Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi mengenai pemantauan penetapan UMP 2009 menyebutkan, nilai nominal UMP 2009 yang tertinggi adalah yang ditetapkan oleh Gubernur NAD yakni sebesar Rp 1,2 juta per bulan.

Selanjutnya disusul oleh Provinsi Papua yang mematok Rp 1,18 juta per bulan. Nah, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo sendiri hanya mematok Rp 1,06 juta per bulan.

Sementara itu, sebagaimana dilansir harian Kompas, nilai nominal UMP 2009 terendah pada tahun ini adalah yang ditetapkan oleh Provinsi Jawa Timur yakni hanya Rp 570.000 per bulan. Ada pula, Provinsi Jawa Tengah yang hanya menetapkan Rp 575.000 per bulan dan Provinsi Jawa Barat yang mematok Rp 628.000 per bulan.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja Myra Maria Hanartani mengatakan, kenaikan UMP 2009 dibanding 2008 yang tertinggi adalah di Provinsi Sulawesi Selatan sebesar 22,21 persen. Di mana pada tahun 2008 UMP hanya Rp 740.000 per bulan menjadi Rp 905.000 per bulan.

Sedangkan kenaikan UMP terendah adalah yang ditetapkan Provinsi Bangka Belitung yakni hanya 4,55 persen. Pada 2008, UMP di daerah yang menjadi lokasi pembuatan film Laskar Pelangi ini hanya Rp 813.000 per bulan kemudian pada tahun ini UMP menjadi Rp 850.000 per bulan
aceh-economic-review.com

Read more...

peternakan coy

peternakan coy
susu

About This Blog

Lorem Ipsum

  © Free Blogger Templates Skyblue by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP