>> Minggu, 08 Februari 2009
negh foto2 penerimaan mahasiswa baru..
kami lagi di stan kmfpt
Keluarga Muslim Fakultas Peternakan
assalamu'aalikummmmmmmmmmmmm salam semua..... bismillahirrahmanirrahiiiiiiiiiiim
negh foto2 penerimaan mahasiswa baru..
kami lagi di stan kmfpt
Keluarga Muslim Fakultas Peternakan
Ciri Pemimpin Yang Tidak Amanah
Dan Urgensi Kepemimpinan Yang Adil
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله، الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه ووالاه، أما بعد:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ بَيْنَمَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَجْلِسٍ يُحَدِّثُ الْقَوْمَ جَاءَهُ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ مَتَى السَّاعَةُ فَمَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَدِّثُ فَقَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ سَمِعَ مَا قَالَ فَكَرِهَ مَا قَالَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ بَلْ لَمْ يَسْمَعْ حَتَّى إِذَا قَضَى حَدِيثَهُ قَالَ أَيْنَ أُرَاهُ السَّائِلُ عَنْ السَّاعَةِ قَالَ هَا أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَإِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا قَالَ إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ) رَوَاهُ البُخَارِيُّ(
Dari Abu Hurairah r.a. berkata, tatkala Nabi saw. berada dalam suatu majelis sedang berbicara dengan sahabat, maka datanglah orang Arab Badui dan berkata, “Kapan terjadi Kiamat?” Rasulullah saw. terus melanjutkan pembicaraannya. Sebagian sahabat berkata, “Rasulullah saw. mendengar apa yang ditanyakan tetapi tidak menyukai apa yang ditanyakannya . Berkata sebagian yang lain, “Rasul saw. tidak mendengar”. Setelah Rasulullah saw. menyelesaikan perkataannya, beliau bertanya, “Mana yang bertanya tentang Kiamat?” Berkata orang Badui itu, “Saya wahai Rasulullah saw.“ Rasul saw. berkata, “Jika amanah disia-siakan, maka tunggulah Kiamat”. Bertanya, “Bagaimana menyia-nyiakannya?” Rasul saw. menjawab, “Jika urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah Kiamat” (HR Bukhari)
Hadits ini sebuah peringatan dari Rasul saw. agar amanah itu diberikan kepada ahlinya. Dan puncak amanah adalah amanah dalam kepemimpinan umat. Jika pemimpin umat tidak amanah berarti kita tinggal menunggu kiamat atau kehancuran..
Wahai Ikhwan dan Akhwat yang dirahmati Allah!
Ciri-Ciri Pemimpin yang tidak amanah, adalah sbb:
Pertama, pemimpin yang tidak memenuhi syarat keahlian, yaitu sebagaimana syarat pemimpin yang disepakati ulama Islam, adalah: Islam, baligh dan berakal, lelaki, mampu (kafaah), merdeka atau bukan budak dan sehat indera dan anggota badannya. Pemimpin yang tidak memiliki syarat keahlian pasti tidak amanah. Misalnya, seorang yang tidak sehat indera dan anggota badannya dan menjadi pemimpin sebuah negara atau bangsa. Ia bisa dipastikan tidak mampu menjalankan amanahnya karena faktor kesehatannya, kemudian dia juga tidak mampu melakukan tugas-tugas yang berat karena cacat sehingga akhirnya lebih banyak berbuat untuk dirinya sendiri daripada untuk rakyatnya.
Begitu pula dengan syarat berakal, karena bila seorang pemimpin bodoh, tidak berakal, dan tidak mampu memimpin pasti orang itu juga tidak amanah, karena dia tidak mengerti apa yang seharusnya dikatakan dan diperbuat. Dan sangat mungkin ia akan diperalat oleh orang dekatnya atau kelompoknya.
Kewajiban kita wahai saudaraku, ialah memunculkan pemimpin bangsa dengan berpedoman pada syarat-syarat yang dituntut dalam Islam. Jika tidak maka kita semua berdosa, bahkan dosa besar. Kita semua harus berjihad untuk mewujudkan hal itu.. Bahkan Rasulullah saw. menyebutkan jihad yang paling utama adalah melakukan amar ma’ruf wa nahi munkar jika ada pemimpin yang tidak sesuai dengan syarat dalam Islam beliau bersabda, “Seutama-utamanya jihad adalah kalimat yang benar kepada penguasa yang zhalim”(HR Ibnu Majah, Ahmad, At-Thabrani, Al-Baihaqi dan An-Nasai). Hadits yang lain, “Penghulu para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthallib dan seorang yang bangkit menuju imam yang zhalim, memerintahkan dan melarang sesuatu lalu ia dibunuh”(HR Al-Hakim)
Wahai Ikhwan dan Akhwat yang dirahmati Allah!
Ciri kedua pemimpin yang tidak amanah adalah mementingkan diri sendiri, keluarga dan kelompoknya. Jika pemimpin yang amanah melaksanakan segala kepemimpinannya untuk semua rakyat dan bangsanya, maka pemimpin yang tidak amanah melakukannya hanya untuk diri sendiri, keluarga dan kelompoknya. Ia tidak menegakkan keadilan bagi seluruh rakyatnya. Ia juga tidak mengembangkan kekayaan negeri untuk kepentingan rakyatnya, tetapi untuk kepentingan diri sendiri, keluarga dan kelompoknya saja, bahkan bila perlu dengan mengorbankan rakyat dan negaranya. Na’udzu billah min dzalika.
Ciri ketiga adalah berlaku zhalim. Pemimpin yang tidak amanah bersifat zhalim. Dia melaksanakan kepemimpinan itu bukan untuk melaksanakan amanah, melainkan untuk berkuasa dan memiliki segala kekayaan negeri sehingga dapat berbuat zhalim kepada rakyatnya. Yang dipikirkan adalah kekuasaannya dan fasilitas dari kekuasaan itu, tidak peduli rakyat menderita dan sengsara bahkan tidak peduli tumpahnya darah rakyat karena kezhalimannya.
Rasulullah saw bersabda:
إنها ستكون عليكم أمراء من بعدي يعظون بالحكمة على منابر فإذا نزلوا اختلست منهم وقلوبهم أنتن من الجيف فمن صدقهم بكذبهم وأعانهم على ظلمهم فليس مني ولست منه ولا يرد علي الحوض ومن لم يصدقهم بكذبهم ولم يعنهم على ظلمهم فهو مني وأنا منه وسيرد علي الحوض
“Sesungguhnya akan datang di tengah-tengah kalian para pemimpin sesudahku, mereka menasihati orang di forum-forum dengan penuh hikmah, tetapi jika mereka turun dari mimbar mereka berlaku culas, hati mereka lebih busuk daripada bangkai. Barang siapa yang membenarkan kebohongan mereka dan membantu kesewenang-wenangan mereka, maka aku bukan lagi golongan mereka dan mereka bukan golonganku dan tidak akan dapat masuk telagaku. Barang siapa yang tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak membantu kesewenang-wenangan mereka maka ia adalah termasuk golonganku dan aku termasuk golongan mereka, dan mereka akan datang ke telagaku.” (H.R. At-Thabrani)
Wahai Ikhwan dan Akhwat yang dirahmati Allah!
Ciri keempat adalah menyesatkan umat. Pemimpin yang tidak amanah akan melakukan apa saja untuk menyesatkan umat. Misalnya, dengan kekayaannya yang diperoleh secara zhalim membeli media masa untuk menjadi ‘corongnya’. Pemimpin seperti ini adalah pemimpin yang berbahaya, bahkan lebih berbahaya dari Dajjaal –laknatullah-. Rasul saw bersabda:” “Selain Dajjaal ada yang lebih aku takuti atas umatku; yaitu para pemimpin yang sesat” (HR Ahmad).
Ciri kelima adalah membuat dan rusak dan hancur seluruh tatanan sosial masyarakat. Pemimpin yang tidak amanah akan mengakibatkan kerusakan dan kehancuran. Salah satu bentuknya adalah menjadi dominannya seluruh bentuk kemaksiatan, seperti kemusyrikan, sihir dan perdukunan, zina dan pornografi, minuman keras dan Narkoba, pencurian dan korupsi, pembunuhan dan kekerasan, dll.
Rasulullah saw. bersabda:
يخرج في آخر الزمان رجال يختلون الدنيا بالدين يلبسون للناس جلود الضأن من اللين ألسنتهم أحلى من العسل وقلوبهم قلوب الذئاب يقول الله: أبي يغترون أم علي يجترئون فبي حلفت لأبعثن على أولئك منهم فتنة تدع الحليم منهم حيران.
“Akan muncul di akhir zaman lelaki yang memanipulasi agama untuk kepentingan dunia, mengenakan pakaian yang halus-halus, lidah mereka lebih manis daripada madu tetapi mereka berhati serigala. Allah berfirman, ”Apakah kepada-Ku mereka sombong atau, kepada-Ku mereka berani. Atas nama-Ku mereka bersumpah. Maka akan ditimpakan kepada mereka fitnah, yang membuat orang-orang pandai jadi kebingungan” (H.R. Tirmidzi)
Wahai Ikhwan dan Akhwat yang dirahmati Allah!
Dengan demikian kita harus memunculkan pemimpin yang adil, yaitu pemimpin yang senantiasa menegakkan keadilan dan berbuat untuk kemaslahatan rakyatnya di dunia dan di akhirat. Kita harus berjihad untuk sebuah proses lahirnya pemimpin yang adil. Kita harus menyiapkan ibu-ibu yang akan mencetak pemimpin yang adil. Kita juga harus menyiapkan sarana untuk terciptanya pemimpin yang adil, Dan akhirnya kita harus berdakwah, beramar ma’ruf nahi munkar agar mendapatkan pemimpin yang adil.
“Dan kamu semua adalah pemimpin dan kamu semua akan diminta pertanggungjawabannya atas kepemimpinan itu”. Umar bin Khathab r.a. berkata: Jika ada seekor keledai yang jatuh di Irak, maka aku akan ditanya di hadapan Allah Taala, kenapa engkau tidak memperbaiki jalan itu”
Doa kita adalah doa yang diabadikan dalam Al-Qur’an:
"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa”.
Rasulullah saw, bersabda:
Ada tujuh kelompok yang akan mendapat perlindungan Allah di hari yang tiada perlindungan, kecuali perlindungan Nya: Imam yang adil….(Muttafaq ‘alaih)
"يوم من إمام عادل أفضل من عبادة ستين سنة، وحد يقام في الأرض بحقه أزكى فيها من مطر أربعين عاماً".
“Sehari bersama imam yang adil lebih baik dari ibadah seorang lelaki selama 60 tahun. Dan hukum hudud yang ditegakkan di muka bumi dengan benar lebih bersih dari hujan yang turun selama 40 tahun” (H.R. At-Thabrani dan Al-Baihaqi)
ثلاثة لا ترد دعوتهم: الإمام العادل، والصائم حين يفطر، ودعوة المظلوم
Tiga kelompok yang tidak ditolak doanya: Imam adil, orang yang berpuasa sampai berbuka dan doa orang yang tertindas” (H.R. Ahmad, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
أحب الناس إلى اللّه وأقربهم منه مجلساً يوم القيامة: إمام عادل، وأبغض الناس إلى اللّه يوم القيامة، وأشدهم عذاباً: إمام جائر
“Manusia yang paling dicintai Allah dan yang paling dekat kedudukannya di hari kiamat adalah imam yang adil. Dan manusia yang paling dibenci Allah dan paling keras azabnya adalah imam yang zhalim” (H.R. Ahmad, At-Tirmidzi dan al-Baihaqi)
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ - والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله، الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه ووالاه، أما بعد:
Allah SWT adalah Pemberi Rezki kepada setiap makhluk-Nya yang hidup di dunia ini. Setiap makhluk hidup telah dijamin oleh Allah rezkinya. Allah berfirman:
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allahlah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Huud:6)
Namun demikian, Allah tidaklah memberikan rezki tersebut pada tingkatan yang instan tanpa ada usaha dari manusia. Manusia tetap dituntut untuk terus berusaha mencari rezki yang sudah diperuntukkan Allah bagi dirinya. Di sinilah manusia dituntut untuk bekerja keras, berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan rezki itu.
Banyak orang terkecoh bahwa yang merupakan rezki itu hanyalah yang bersifat materi belaka. Tidak dipungkiri, memang kekayaan adalah rezki tetapi bukanlah satu-satunya rezki. Ilmu juga merupakan rezki. Bahkan waktu yang kita miliki ini pun merupakan rezki, karena merupakan kesempatan bagi kita untuk meraih dan menginvestasikan kebaikan. Waktu itu dalam pandangan Imam Hasan Al-Bashri merupakan kehidupan itu sendiri.
Pantaslah dalam doa seringkali dimunajatkan, “warzuqnaa tilaawatahuu aanaa allaili wa athraafan nahaar” (Ya Allah, berilah kesempatan kepada kami untuk membacanya (Al-Qur’an) di waktu malam yang kelam maupun di waktu siang yang terang benderang.
Oleh karena itu, sebenarnya kita semua memiliki kekayaan, mungkin secara fisik (kekayaan yang Allah amanahkan kepada kita); mungkin juga non fisik (berupa waktu luang yang Allah berikan kepada kita). Inilah harta kita yang harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
HARTA YANG KITA MILIKI BUKAN SEUTUHNYA MILIK KITA
Allah SWT adalah Dzat yang memberikan jaminan rezki kepada kita, ini menunjukkan bahwasanya Allah pun berhak mengatur peruntukan rezki yang ada pada kita.
Manusia yang tidak menyadari akan hal ini menganggap bahwasanya rezki itu adalah hasil kerja kerasnya sendiri tanpa ada campur tangan Allah SWT. Perilaku ini digambarkan oleh Allah SWT ketika menceritakan tentang kepicikan
Tuntutan yang dikehendaki Allah terkait dengan harta kita adalah dalam bentuk Infaq di jalan Allah SWT untuk menegakkan agama-Nya di muka bumi ini.
MEMBIAYAI DA’WAH DENGAN HARTA KITA ADALAH JIHAD BESAR
Di antara seruan Allah SWT dalam memobilisasi kaum Muslimin untuk berjihad di jalan-Nya adalah dalam Surat At-Taubah ayat 41:
Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. At-Taubah: 41)
Infak di jalan Allah menjadi sebuah keharusan yang tidak boleh ditinggalkan dalam jihad fii sabilillah, baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan sempit. Dalam ayat tersebut secara gamblang disebutkan bahwa berjihadlah dengan harta dan jiwamu.
Mengapa kita diharuskan berjihad dengan harta kita? Hal itu disebabkan karena kebatilan pun untuk bisa eksis, didukung oleh para pendukung kebatilan (orang-orang kafir) yang berani mengeluarkan biaya besar. Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu, menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam neraka Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan,” (QS. Al-Anfal: 36)
Oleh karena itu, pelalaian akan infak di jalan Allah ini akan menyebabkan surutnya kembali cahaya Islam dan tertutupinya kebenaran Islam. Tertutup oleh kegelapan kebatilan dan kezhaliman yang mengobral harta mereka untuk melawan kebenaran.
Perhatikanlah dalam penggalan sejarah ketika para sahabat berkeinginan meminta dispensasi kepada Rasulullah untuk tidak lagi berinfak dan meninggalkan dakwah yang telah maju di Madinah untuk sekadar memetik keuntungan duniawi. Permintaan dispensasi tersebut dijawab oleh Allah dengan sebuah penegasan untuk berinfak di jalan Allah SWT.
Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195)
Semoga Allah SWT senantiasa melapangkan rezki kepada kita dan memberikan kekuatan kepada kita untuk berinfak di jalan Allah SWT dalam menegakkan agama Allah di muka bumi ini. Amin.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ - والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله، الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه ووالاه، أما بعد:
Masyarakat Islam bagaikan bangunan kokoh. Usrah (keluarga) bukan saja sebagai sendi terpenting dalam bangunan tersebut, tetapi juga menjadi unsur pokok bagi eksistensi umat Islam secara keseluruhan. Oleh sebab itu, agama Islam memberikan perhatian khusus masalah pembentukan keluarga ini.
Perhatian istimewa terhadap pembentukan usrah tersebut tercermin dalam beberapa hal, yaitu:
Pertama, Al-Qur’an menjabarkan cukup terinci tentang pembentukan keluarga ini. Ayat-ayat tentang pembinaan keluarga termasuk paling banyak jumlahnya dibandingkan dengan ayat-ayat yang menjelaskan masalah lain. Al-Qur’an menjelaskan tentang keutamaan menikah, perintah menikah, pergaulan suami-istri , menyusui anak, dan sebagainya.
Kedua, sejak dini As-Sunah telah mengajarkan takwinul usrah yang shalihah dengan cara memilih calon mempelai yang shalihah. Rasulullah SAW bersabda, “Pilihlah tempat untuk menanam benihmu karena sesungguhnya tabiat seseorang bisa menurun ke anak”
Rasulullah SAW sejak masa remaja sudah terkenal sebagai orang yang bersih dan berbudi mulia. Ketika beliau menginjak umur 25 tahun menikahi Khadijah binti Khuwalid. Sejak saat itulah beliau mengarungi kehidupan rumah tangga bahagia penuh ketenteraman dan ketenangan.
Rasulullah SAW amat menghormati wanita, lebih-lebih istrinya. Beliau bersabda, “Tidaklah orang yang memuliakan wanita kecuali orang yang mulia dan tidaklah yang menghinakannya kecuali orang yang hina”. Menghormati istri adalah kewajiban suami. Al-Qur’an berkali-kali memerintahkan agar menghormati dan berbuat baik terhadap istri. Kita tidak mendapatkan kata-kata dalam Al-Qur’an yang mengharuskan untuk berbuat baik dalam mempergauli istri, baik dalam keadaan marah atau tidak. Kecuali, ditekankan kewajiban berbuat ma’ruf dan ihsan terhadap istri dan dilarang menyakiti atau menyiksanya.
Perbuatan baik ini tidak terbatas pada perlakuan sopan terhadap istri saja tapi mencakup ketabahan dan kesabaran ketika menghadapi kemarahan istri sebagian kasih sayang atas kelemahannya. Rasulullah SAW menyatakan, “Wanita itu diciptakan dari tulang rusuk, bila kamu luruskan (dengan keras) maka berarti mematahkannya”. (Al-Hadits)
Rasulullah SAW amat sayang terhadap istri-istrinya. Beliau amat marah bila mendengar seorang wanita dipukul suaminya. Pernah datang seorang wanita mengadu kepada Rasulullah SAW bahwa suaminya telah memukulnya. Maka beliau berdiri seraya menolak perlakuan tersebut dengan bersabda, “Salah seorang dari kamu memukul istrinya seperti memukul seorang budak, kemudian setelah itu memeluknya kembali, apakah dia tidak merasa malu?”
Ketika Rasulullah SAW mengizinkan memukul istri dengan pukulan yang tidak membahayakan, dan setelah diberi nasihat dan ancaman secukupnya. Beliau didatangi 70 wanita dan mengadu bahwa mereka dipukuli suami. Rasulullah SAW berpidato seraya berkata, “Demi Allah, telah banyak wanita berdatangan kepada keluarga Muhammad untuk mengadukan suaminya yang sering memukulnya. Demi Allah, mereka yang suka memukul istri tidaklah aku dapatkan sebagai orang-orang yang terbaik di antara kamu sekalian.”
Rasulullah SAW merupakan contoh indah dalam kehidupan rumah tangganya. Beliau sering bercanda dan bergurau dengan istri-istrinya. Dalam satu riwayat beliau balapan lari dengan Aisyah, terkadang beliau dikalahkan dan pada hari lain beliau menang. Beliau senantiasa menegaskan pentingnya bersikap lembut dan penuh kasih sayang kepada istrinya. Kita banyak menjumpai hadits yang seirama dengan hadits berikut, “Orang mukmin yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaqnya dan paling lembut pada keluarganya”. Riwayat lain, “Sebaik-baik di antara kamu adalah yang paling baik pada keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku”.
Di antara yang menunjukkan keteladanan beliau dalam menghormati istri adalah menampakkan sikap lembut, penuh kasih sayang, tidak mengkritik hal-hal yang tak berguna dikritik, memaafkan kekeliruannya, dan memperbaiki kesalahannya dengan lembut dan sabar Bila ada waktu senggang beliau ikut membantu istrinya dalam mengerjakan kewajiban rumah tangganya,
Aisyah pernah ditanya tentang apa yang pernah dilakukan Rasulullah SAW di rumahnya. Beliau menjawab, “Rasulullah mengerjakan tugas-tugas rumah tangga, dan bila datang waktu shalat dia pergi shalat.”
Rasulullah SAW memiliki kelapangan dada dan sikap toleran terhadap istrinya. Bila istrinya salah atau marah, beliau memahami betul jiwa seorang wanita yang sering emosional dan berontak. Beliau memahami betul bahwa rumah tangga adalah tempat yang paling layak dijadikan contoh bagi seorang dai, yaitu rumah tangga yang penuh kecintaan dan kebahagiaan. Kehidupan rumah tangga harus dipenuhi gelak tawa, kelapangan dada, dan kebahagiaan agar tidak membosankan.
Bila terpaksa harus bertindak tegas, beliau lakukan itu disertai dengan kelembutan dan kerelaan. Sikap keras dan tegas untuk mengobati keburukan dalam diri wanita sedangkan kelembutan dan kasih sayang untuk mengobati kelemahan dan kelembutan dalam dirinya.
Khadijah sebagai istri teladan.
Khadijah binti Khuwailid adalah seorang wanita bangsawan Quraisy yang kaya. Dia diberi gelar wanita suci di masa jahiliyah, juga di masa Islam. Banyak pembesar Quraisy berupaya meminangnya, akan tetapi beliau selalu menolak. Beliau pedagang yang sering menyuruh orang untuk menjualkan barang dagangannya keluar kota Mekkah.
Ketika beliau mendengar kejujuran Muhammad SAW, ia menyuruh pembantunya dan meminta Muhammad menjualkan barang dagangannya ke Syam bersama budak laki-laki bernama Maisyarah. Nabi Muhammad menerima permohonan itu dengan mendapatkan keuntungan besar dalam perjalanan pertama ini.
Setelah mendengar kejujuran dan kebaikan Muhammad, Khadijah tertarik dan meminta kawannya, Nafisah binti Maniyyah, untuk meminangkan Muhammad. Beliau menerima pinangan itu dan terjadilah pernikahan ketika beliau menginjak 25 tahun sedang Khadijah berumur 40 tahun.
Khadijah sebagai ummul mukminin telah menyiapkan rumah tangga yang nyaman bagi Nabi SAW. Sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan membantunya ketika beliau sering berkhalwat di gua Hira, Khadijah adalah wanita pertama yang beriman kepadanya ketika Nabi mengajaknya masuk Islam. Khadijah adalah sebaik-baik wanita yang mendukung Rasulullah SAW dalam melaksanakan dakwahnya baik dengan jiwa, harta, maupun keluarganya. Perikehidupannya harum semerbak wangi, penuh kebajikan, dan jiwanya sarat dengan kehalusan.
Rasulullah SAW pernah menyatakan dukungan ini dengan sabdanya, ”Khadijah beriman kepadaku ketika orang-orang ingkar, dia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku dan dia menolongku dengan hartanya ketika orang-orang tidak memberiku apa-apa. Allah mengaruniai aku anak darinya dan mengharamkan bagiku anak dari selainnya”. (H.R. Imam Ahmad dalam kitab Musnadnya)
Khadijah amat setia dan taat kepada suaminya, bergaul dengannya, siap mengorbankan kesenangannya demi kesenangan suaminya dan membesarkan hati suaminya di kala merasa ketakutan setelah mendapatkan tugas kenabian. Beliau gunakan jiwa dan semua harta miliknya untuk mendukung Rasul dan kaum Muslimin. Pantaslah kalau beliau dijadikan sebagai istri teladan pendukung risalah dakwah Islamiyah.
Khadijah mendampingi Nabi SAW selama seperempat abad, berbuat baik kepadanya di saat beliau gelisah, menolongnya di waktu-waktu sulit, membantunya dalam menyampaikan risalah, ikut serta merasakan penderitaan yang pahit pada saat jihad, dan menolongnya dengan jiwa dan hartanya.
Rasulullah SAW senantiasa menyebut-nyebut kebaikan Khadijah selama hidupnya sehingga ini pernah membuat Aisyah cemburu kepada Khadijah yang telah tiada. Dengan ketaatan dan pengorbanan yang luar biasa ini, pantas kalau Allah SWT menyampaikan salam lewat malaikat Jibril seperti yang pernah diungkapkan Rasulullah SAW dalam sebuah hadits, “Jibril datang kepada Nabi lalu berkata, wahai Rasulullah, ini Khadijah telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah, makanan dan minuman, apabila datang kepadamu sampaikan salam dari Tuhannya dan beritahukan kepadanya tentang sebuah rumah di surga, terbuat dari mutiara yang tiada suara gaduh di dalamnya dan tiada kepenatan.” (H.R Bukhari)
Itulah sekelumit tentang sosok Khadijah sebagai seorang istri yang layak dijadikan teladan bagi wanita-wanita sekarang dalam mendukung suami melaksanakan kewajiban dakwah dan menyampaikan risalah Islam .
Ciri-ciri rumah tangga kader dakwah
1. Sendi bangunan keluarga kader adalah taqwallah. Taqwa merupakan sendi yang kuat untuk bangunan usrah Islamiyah. Memilih istri harus sesuai dengan taujih Rasulullah, yaitu mengutamakan sisi agama.
2. Kebahagiaan rumah tangga bukanlah berdasarkan atas kesenangan materi saja tapi kebahagiaan hakiki harus muncul dari dalam jiwa berupa ketaqwaan kepada Allah SWT. Bila taqwa telah menjadi sendi utama, maka kekurangan material apapun akan menjadi ringan. Dengan taqwa akan memunculkan tsiqah antara keduanya sehingga akan melahirkan ketenteraman dan ketenangan. Dengan ketaqwaan, hubungan antara suami dan istri serta anak-anaknya akan menjadi indah karena semua akan sadar akan tanggung jawabnya dan hak-haknya.
3. Rumah yang dibangun untuk keluarga kader seharusnya sederhana, mengutamakan dharuriyyat (prioritas), mengurangi hal-hal yang tersier, dan tidak ada israf.
4. Dalam masalah pakaian dan makanan hendaknya menjauhi israf, mewah-mewahan, tapi justru harus menekankan masalah kesederhanaan, kebersihan, menghindari yang haram. Rumah tangga kader lebih mengutamakan memperbanyak sedekah untuk fakir dan miskin. Nasihat pada setiap kader dalam hal makanan harus selalu halal dan baik, menjauhi yang haram dan yang syubhat
5. Sekitar anggaran rumah tangga haruslah menjadi contoh . Dalam hal ini kita harus:
a. mencari rezki yang halal dan baik serta menjauhi yang haram. Sebab, semua daging yang lahir dari barang haram maka api neraka lebih berhak untuk membakarnya.
b. Perlu ada kesepakatan antara suami dan istri dalam menentukan anggaran belanja rumah tangga, untuk apa saja penggunaan anggaran tersebut. Yang jelas, pengeluaran tidak boleh melebihi penghasilan
c. Mencukupkan diri dengan hal-hal yang dharuriyyat dan menjauhi hal-hal yang sifatnya kamaliyat semampu mungkin.
d. Memperhatikan hak Allah SWT seperti menunaikan zakat, menunaikan ibadah haji kalau sudah mampu. Dalam rumah tangga diutamakan bila mampu menyediakan kotak khusus untuk sedekah. Wallahu a’lam.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ - والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Seri Taujihat Ri’ayah Ma’nawiyah terdiri dari Khithab Qiyadi, Taujihat Lailatul Katibah dan Taujihat Dua Pekanan.
Taujihat tersedia dalam bentuk audio, vcd dan tulisan.
Taujihat Ri’ayah Ma’nawiyah terbit secara berkala dalam rangka penyiagaan kader menghadapi agenda Dakwah 1424 H.
kaderisasi@pk-sejahtera.org
Keberadaan bahasa Aceh terancam punah. Pasalnya, rata-rata orang tua di perkotaan jarang mengajarkan bahasa tersebut kepada anak-anaknya. Faktor lain, minimnya guru yang mampu mengajarkan bahasa Aceh dengan baik dan benar.
Ancaman itu mencuat dalam workshop Seni Budaya dan Adat Aceh, Sabtu (8/9), di Guest House, Meligoe Gubernur Provinsi Aceh. Kegiatan itu diselenggarakan Yayasan Sambinoe.
“Di jalur pendidikan pun, hanya level sekolah dasar (SD) dan kelas satu sekolah menengah pertama (SMP) yang ada pelajaran bahasa Aceh. Sedangkan kelas berikutnya hingga sekolah menengah atas (SMA) tidak ada,” ungkap Cut Fatma, Sekretaris Yayasan Sambinoe.
Dia mengusulkan, perlu iklim yang mendukung siswa agar tertarik mempelajari bahasa Aceh. Sebab, keberlangsungan bahasa daerah tersebut saat ini berada dalam tingkat mengkhawatirkan.
Dia juga mengimbau pemerintah, meningkatkan kurikulum bahasa daerah. “Dalam hal ini bahasa Aceh. Tujuannya untuk melestarikan peninggalan budaya,” cetus dia.
Saifuddin Mahmud, Dosen Bahasa Aceh FKIP Unsyiah, mengajurkan semua pihak menggunakan bahasa sesuai pada tempatnya. Tujuannya untukmenjaga pelestarian bahasa tersebut. “Gunakan bahasa daerah kepada sesama pemakai bahasa itu. Sebab, fungsi bahasa daerah sebagai lambang kebanggaan daerah,” ujarnya.
Ia menyebutkan, sangat sedikit dosen di perguruan tinggi, mau mengajar bahasa Aceh. Demikian juga dengan kurikulumnya. “Hingga saat ini, hanya satu orang pengajar bahasa Aceh di Unsyiah,” imbuh dia.
Drs Anas M Adam, Kepala Dinas Pendidikan Aceh, mengatakan penambahan jam pelajaran per minggu untuk bahasa daerah/Aceh, dianggap cukup. Anas menekankan kefasihan berbahasa daerah itu perlu dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Dia mencontohkan, perlu digalakkan acara kesenian Aceh seperti pembacaan hikayat, agar generasi muda Aceh mengenal budaya dan bahasanya sendiri.
Selain itu, “Lingkungan keluarga juga berpengaruh. Hendaknya membiasakan anak memakai bahasa Aceh,” ajaknya.
Di sisi lain, Anas menyoroti keragaman bahasa daerah di Provinsi Aceh. Ia menyebutkan perbedaan bahasa Aceh dengan bahasa Gayo, Alas, Simeulue, Singkil, dan sebagainya.
“Dengan perbedaan ini, akan menyulitkan pengadaan bahan ajar. Metode pengajaran bahasa yang ada saat ini sudah ketinggalan zaman. Alasan Dinas Pendidikan memberikan porsi pelajaran bahasa daerah untuk SD karena usia tersebut lebih mudah menyerap bahasa,” katanya
PARADIGMA BARU DA’WAH KAMPUS
Integralitas Da’wah Kampus Untuk Mewujudkan UGM Darussalam
Li kulli marhalatin ahdafuha, li kulli marhalatin rijaluha (dalam setiap tahapan da’wah memiliki tujuan dan rijalnya masing-masing). Masa transisi bangsa ini telah memberikan pengaruh terhadap dinamika dakwah kampus. Tuntutan akademis, meningkatnya biaya pendidikan, karakter mahasiswa yang semakin hedonis, munculnya berbagai harokah da’wah dan semakin menurunnya energi pergerakan mahasiswa turut memberikan warna tersendiri dalam denyut nadi da’wah kampus. Perubahan itu ternyata mengalir ke berbagai kampus dibelahan bumi nusantara. Oleh karena itu dakwah kampus harus mampu menjawab tuntutan zaman yang terus berubah. Perubahan itu mengharuskan dakwah kampus segera berbenah dan bermetamorfosa agar tak tergilas oleh roda zaman itu sendiri.
Dakwah kampus yang sedang mengalami transisi zaman tidak membutuhkan perubahan yang sifatnya parsial, tetapi ia membutuhkan perubahan yang besar dan berkelanjutan disemua sayap da’wahnya. Oleh karena itu, transisi dakwah kampus akan sulit dilewati ketika para pelakunya tidak memiliki akal-akal besar dan paradigma baru dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada.
Penyakit Umat dalam Da’wah
Sebenarnya da’wah Islam tidak pernah berhenti (karena itu Sunnatullah), akan tetapi barangkali ia tidak begitu efektif dalam melakukan perubahan. Bahkan, kadang yang terjadi justru hasilnya malah kontra produktif dengan da’wah itu sendiri. Mengapa malah demikian? Sebenarnya, muasal dari itu semua bersumber pada sikap individual (infirodi) pelaku da’wah. Penyakit ini lantas menjadi sebuah sikap. Sikap dan pendirian ini kemudian mempengaruhi maknawiyah (mental) dan aktivitasnya.1
Pun demikikan dalam da’wah kampus. Selama ini SKI (Sie Kerohanian Islam) yang ada di setiap fakultas-fakultas di UGM (ataupun di Universitas yang lain) seringkali melakukan kerja-kerja yang malah memperlemah da’wah itu sendiri (kalau tidak boleh dibilang menghancurkan). Banyak langkah-langkah yang mereka ambil tanpa didasari oleh maknawiyah dan aktivitas-aktivitas yang kuat sehingga cenderung memperlihatkan gejala-gejala individualis (infirodi) itu sendiri.
Sikap emosional yang sering ditunjukkan ketika menanggapi sebuah permasalahan membuat anggapan bahwa seorang da’i kurang begitu memahami arti pentingnya sebuah keteladanan. Sikap gegabah tersebut yang malah membuat batu bumerang bagi da’i untuk bersikap (mencitrakan diri kita) sebagai seorang tauladan bagi orang di sekitar kita. Citra Islam yang seharusnya dibangun atas dasar keteladanan ternyata malah dibuat negatif oleh da’i-da’i yang sering berbuat kekeliruan.
Dari segi aktivitas yang dilakukan sering pula menunjukkan kegamangan dalam bersikap. Dalam membuat perbaikan terkadang masih bersifat tambal sulam. Hal ini disebabkan berbagai keterbatasan yang ada pada individu. Betapapun hebatnya, sebagai manusia, seorang da’i tidak bebas daei kekurangan. Baik aspek kemampuan maupun usia. Da’wak tambal sulam yang demikian tidak akan membuahkan hasil. Energinya akan habis percuma karena belum selesai parbaikan pada satu sisi, kerusakan terjadi di tempat yang lain. Belum selesai perbaikan pada bagian yang kedua, bagian pertama yang kemarin sudah mulai usang.2
Integralitas Da’wah Kampus
Da’wah yang merupakan proses besar dan berat ini tidak mungkin dilakukan secara individual. Sebab, tiap-tiap diri tidak bebas dari kekurangan. Namun betapa pun kecilnya dan terbatasnya individu, da’wah akan menjadi besar dan kuat dalam amal jama’i.3
Di dalam sebuah lembaga SKI dimasing-masing fakultas tentu ada kelebihan dan kekurangan dalam setiap gerak da’wahnya. Sehingga perlu adanya sinergitas antar setiap SKI untuk mengonsep sebuah sistem da’wah yang ideal di kampus. Gerakan integral yang dibangun atas dasar kefahaman akan menghasilkan langkah-langkah yang terstruktur untuk mencapai tujuan-tujuan da’wah di kampus. Ibarat sebuah tubuh yang saling berikatan satu sama lain tentu akan lebih mudah untuk menggerakkannya. Setiap lini yang ada saling melengkapi dalam bangunannya hingga tercipta landasan awal untuk mewujudkan UGM Darussalam.
Paradigma Baru Dalam Da’wah Kampus
Da’i yang menjadi pelaku da’wah kampus seharusnya memiliki paradigma tersendiri dalam mengemban misi da’wah ini sehingga dapat terwujud masyarakat yang islami di kampus. Salah satu tujuan dari dakwah kampus itu sendiri adalah dengan memperbanyak orang sholeh yang nanti akan mengisi ruang-ruang yang ada di masyarakat (yang bertindak sebagai tokoh di sana) sehingga tercipta sebuah sistem yang islami di masyarakat.
Sebuah peradaban islami (madani) di masyarakat menjadi sebuah cita-cita yang selama ini dirindukan oleh umat. Teringat pada masa lalu bahwa Islam pernah berjaya di masa kepemimpinan Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam di Madinah yang itu menjadi sebuah contoh yang nyata bahwa sistem islam menjadi aturan yang diterapkan di sebuah negara yang itu menciptakan peradaban yang gemilang. Tercipta ketentraman dan keadilan di dalamnya, tersuguhkan suasana yang harmonis di dalam masyarakat, sehingga menjadikan idaman bagi setiap umat untuk mengulanginya.
Kejayaan Islam adalah sebuah kepastian dan itu adalah janji Allah ta’ala. Namun yang perlu kita pahami sekarang adalah dimana posisi kita saat itu? Ketika Islam berjaya apakah kita ikut berkontribusi dalam pencapaiannya?
Risalah da’wah yang dibawa Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam dan para sahabat yang itu diwariskan oleh orang-orang yang memiiki semangat juang tinggi untuk menegakkan agama Allah di muka bumi ini. Beberapa hal yang ini merupakan tahapan-tahapan atau ruang-ruang da’wah yang menjadi patokan bagi da’i-da’i kampus untuk ikut berkontribusi dalam mewujudkan UGM Darussalam. Tidak lepas dari itu semua kejayaan ISLAM yang selama ini diimpi-impikan itu menjadi kenyataan.2
Ruang pertama, Meretas Jalan Kebangkitan Islam. Gerakan da’wah ini teristimewakan dengan beberapa karakteristik yang membedakannya dari da’wah-da’wah lainnya. Karakteristik itu bukan hanya sekedar formalitas, akan tetapi merupakan ekspresi inti fikrah yang mendasari proyek besar kebangkitan Islam yang membawa da’wah menuju kejayaannya.
Melalui da’wah dan jihad agama ini diperjuangkan. Insya Allah da’wah akan menggapai kejayaan, keagungan, dan kepemimpinan dunia. Hal itu hanya dapat dicapai dengan keikhlasan dalam berjuang, keteguhan menghadapi ujian, kekuatan menghadapi tantangan, keteladanan dalam beramal, keberanian dalam megambil keputusan, kecerdasan dalam bersiasat dan kesabaran dalam meraih kemenangan.
Ruang kedua, Tahapan Amal Da’wah dan Teori Kebangkitan. Dalam berbagai risalahnya Ustadz Hasan Al-Banna menjelaskan tentang tahapan amal da’wah, agar Islam menemui era kejayaannya kembali hingga tidak ada lagi fitnah dimuka bumi ini.
”Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan agama itu semata-mata hanya milik Allah….” (Q.S : Al-Baqarah : 193).
Dalam risalah ”Bainal amsi wal yaum” yang ditulis oleh Mursyid ’Aam pertama Al-Ikhwan Al-Muslimun, dengan jelas mengejawantahkan tahapan itu dalam dua tahapan besar.
a. Tujuan jangka pendek yang mencakup perbaikan individu, membina keluarga Islami, dan membentuk masyarakat Islami.
b. Tujuan jangka panjang yang meliputi memperbaiki pemerintahan, membebaskan negeri muslim dari penjajahan asing, tegaknya daulah dan Kekhilafahan Islam, dan kepemimpinan dunia.
Jika kita lihat di sini ada beberapa tahapan yang sering dikenal dengan marotibul amal. Dan setiap tahapan itu memiliki jenjangnya dan setiap jenjangnya parlu adanya evaluasi-evaluasi setiap capaian-capaian da’wah yang berhasil dicapai.
Ruang ketiga, Paradigma Baru Da’wah Kampus. Tantangan dan tuntutan zaman menghendaki da’wah ini harus terus berjalan di semua sisinya baik secara struktural maupun kultural dan integral di seluruh dimensi, serta putaran amalnya. Da’wah kampus berhadapan dengan berbagai dimensi kehidupan. Sebagaimana sifat dasarnya, Islam bersifat syamil (menyeluruh) dan mutakamil (sempurna). Oleh karena itu da’wah kampus merupakan motor besar kaderisasi yang akan mensuplai alumninya untuk memasuki seluruh sendi-sendi kehidupan.
Untuk menjawab berbagai tantangan dan tuntutan zaman, aktifis da’wah harus membekali dirinya untuk melakukan mobilitas da’wah baik secara vertikal maupun horizontal. Jika mobilitas horizontal bertujuan untuk mempersiapkan masyarakat Islami, maka mobilitas vertikal bertujuan untuk mempersiapkan sekaligus menerapkan kehendak-kehendak Allah SWT kedalam sistem kenegaraan. Sebagaimana Rasulullah SAW telah mempersiapkan terlebih dahulu masyarakat yang menerima konsep Islam, sampai akhirnya mendirikan sebuah institusi politik, yaitu negara Madinah. Ada tiga kunci utama yang harus dimiliki oleh para kader da’wah dalam melakukan mobilitas vertikal maupun horizontal. Ketiga kunci itu adalah kredibilitas moral, kredibilitas sosial dan kredibilitas profesional. Jika ketiga kapasitas ini dimiliki oleh kader da’wah, maka insya Allah da’wah akan diterima dimanapun dan kapanpun kita berada.
Ruang kempat, Memahami Medan Amal Da’wah Kampus. Da’wah kampus dengan berbagai karakter dan dinamikanya harus mampu mengoptimalkan peran dan fungsinya sebagai marhalah yang mencetak SDM baik secara kuantitas maupun kualitas. Pembentukan kuantitas kader dapat dilakukan dengan memperluas sarana rekrutmen, dan pembentukan kualitas kader dilakukan melalui tadrib wa taujih al amal (pelatihan dan pengarahan kerja di berbagai amal da’wah kampus). Amal da’wah kampus harus kita pahami secara integral agar tidak terjadi disorientasi dalam da’wah kampus dan ashobiah antar lini da’wah.
Dalam sirah nabawiyah dijelaskan tentang kisah hijrah nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Kisah itu memberikan pelajaran kepada kita tentang kolektifitas dan integralitas amal serta kecerdasan akal yang saling bersatu padu hingga menuai kesuksesan gemilang untuk perkembangan da’wah Islam dimassa depan. Da’wah kampus pun harus mengambil pelajaran berharga dalam mengelola dinamika dan strategi kerjanya. Setiap kader harus memahami pembagian amal da’wah bukan untuk bekerja secara parsial, akan tetapi hal tersebut bertujuan untuk pembagian fokus kerja agar roda da’wah ini berjalan secara profesional dan sinergis. Sebagaimana Rasulullah SAW membagi medan amal kepada Abu bakar, Abdullah, Asma dan Amir, keempatnya mampu bekerja secara optimal dalam melakukan pembagian peran untuk meyelamatkan Rasulullah SAW dari pengejaran kafir Quraisy dan selanjutnya Islam berkembang sangat cepat di Madinah.
Aktivis da’wah kampus harus melakukan harmonisasi sebagai upaya mengoptimalkan potensi masing-masing lini da’wah dan mengefektifkan sinergi antar lembaga. harmonisasi mencakup pembagian atau kerjasama peran, bidang garap, isu, obyek da’wah dan hal-hal lain, sehingga tercegah kondisi tumpang tindih, kesenjangan atau saling memperlemah antar elemen da’wah kampus.
Ruang kelima, Sukses Mengelola Da’wah Kampus. Da’wah kampus sejatinya tidak akan pernah berdiri tegak ketika terjebak dengan putaran zaman. Hal ini menuntut perubahan dan penyesuaian diri dengan kebutuhan ummat dan kondisi terkini. Perubahan mendasar yang dinantikan akan terjadi apabila aspek-aspek terkait dalam kultur da’wah kampus mulai berbenah.
Perubahan, kata ini seolah menjadi kunci dari mandeknya aktualisasi da’wah kampus dewasa ini. Perubahan tentu saja membutuhkan berbagai macam sarana. Salah satunya adalah struktur-organisasi dan perangkat-perangkatnya. Kalau kita telaah lebih dalam, sesungguhnya keberadaan tandzim/organisasi itu tidak lebih dari sebuah upaya untuk mensistematiskan proses perubahan itu sendiri. Tujuannya jelas, agar perubahan mampu terwujud secara tepat dan akurat. Agar perubahan itu mampu menjadi semacam obat penawar dan bukan sengat yang melumpuhkan.
Oleh karenanya, tandzim/organisasi menentukan dan membuat berbagai fungsi dan alat, agar perubahan yang diinginkan tercapai dalam jangka waktu tertentu. Tapi akan menjadi masalah ketika fungsi dan alat itu tak dipahami dengan baik, pada akhirnya yang terjadi adalah disorientasi. Akibatnya, perubahan dan prosesnya seolah-olah berkutat dan berputar hanya pada tingkat wacana dan ide semata, tapi sebenarnya kita telah terbiasa dengan kerja perencanaan. Kerja yang senantiasa kita orientasikan jauh kedepan dalam jangka waktu yang panjang.
© Free Blogger Templates Skyblue by Ourblogtemplates.com 2008
Back to TOP