>> Minggu, 08 Februari 2009
negh akhwat2 KMFPT!!!!
mantap kan?
di jogja rame juga ikhwah
assalamu'aalikummmmmmmmmmmmm salam semua..... bismillahirrahmanirrahiiiiiiiiiiim
aslm...
negh salah satu akhwat..
ne asli jogja...
tepatnya?????
gtw lagh
namanya ari kusuma..
mw lengkap?
tanya ndere aja
negh anak peternakan ugm...
saya paling kanan...
di tengah mashul...
ketua kmfpt...
yang kanan...
siapa yagh...
hmmmmm....
lupa...
afwan!!!!
tapi keren2 kan?
negh foto2 penerimaan mahasiswa baru..
kami lagi di stan kmfpt
Keluarga Muslim Fakultas Peternakan
Ciri Pemimpin Yang Tidak Amanah
Dan Urgensi Kepemimpinan Yang Adil
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله، الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه ووالاه، أما بعد:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ بَيْنَمَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَجْلِسٍ يُحَدِّثُ الْقَوْمَ جَاءَهُ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ مَتَى السَّاعَةُ فَمَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَدِّثُ فَقَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ سَمِعَ مَا قَالَ فَكَرِهَ مَا قَالَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ بَلْ لَمْ يَسْمَعْ حَتَّى إِذَا قَضَى حَدِيثَهُ قَالَ أَيْنَ أُرَاهُ السَّائِلُ عَنْ السَّاعَةِ قَالَ هَا أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَإِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا قَالَ إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ) رَوَاهُ البُخَارِيُّ(
Dari Abu Hurairah r.a. berkata, tatkala Nabi saw. berada dalam suatu majelis sedang berbicara dengan sahabat, maka datanglah orang Arab Badui dan berkata, “Kapan terjadi Kiamat?” Rasulullah saw. terus melanjutkan pembicaraannya. Sebagian sahabat berkata, “Rasulullah saw. mendengar apa yang ditanyakan tetapi tidak menyukai apa yang ditanyakannya . Berkata sebagian yang lain, “Rasul saw. tidak mendengar”. Setelah Rasulullah saw. menyelesaikan perkataannya, beliau bertanya, “Mana yang bertanya tentang Kiamat?” Berkata orang Badui itu, “Saya wahai Rasulullah saw.“ Rasul saw. berkata, “Jika amanah disia-siakan, maka tunggulah Kiamat”. Bertanya, “Bagaimana menyia-nyiakannya?” Rasul saw. menjawab, “Jika urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah Kiamat” (HR Bukhari)
Hadits ini sebuah peringatan dari Rasul saw. agar amanah itu diberikan kepada ahlinya. Dan puncak amanah adalah amanah dalam kepemimpinan umat. Jika pemimpin umat tidak amanah berarti kita tinggal menunggu kiamat atau kehancuran..
Wahai Ikhwan dan Akhwat yang dirahmati Allah!
Ciri-Ciri Pemimpin yang tidak amanah, adalah sbb:
Pertama, pemimpin yang tidak memenuhi syarat keahlian, yaitu sebagaimana syarat pemimpin yang disepakati ulama Islam, adalah: Islam, baligh dan berakal, lelaki, mampu (kafaah), merdeka atau bukan budak dan sehat indera dan anggota badannya. Pemimpin yang tidak memiliki syarat keahlian pasti tidak amanah. Misalnya, seorang yang tidak sehat indera dan anggota badannya dan menjadi pemimpin sebuah negara atau bangsa. Ia bisa dipastikan tidak mampu menjalankan amanahnya karena faktor kesehatannya, kemudian dia juga tidak mampu melakukan tugas-tugas yang berat karena cacat sehingga akhirnya lebih banyak berbuat untuk dirinya sendiri daripada untuk rakyatnya.
Begitu pula dengan syarat berakal, karena bila seorang pemimpin bodoh, tidak berakal, dan tidak mampu memimpin pasti orang itu juga tidak amanah, karena dia tidak mengerti apa yang seharusnya dikatakan dan diperbuat. Dan sangat mungkin ia akan diperalat oleh orang dekatnya atau kelompoknya.
Kewajiban kita wahai saudaraku, ialah memunculkan pemimpin bangsa dengan berpedoman pada syarat-syarat yang dituntut dalam Islam. Jika tidak maka kita semua berdosa, bahkan dosa besar. Kita semua harus berjihad untuk mewujudkan hal itu.. Bahkan Rasulullah saw. menyebutkan jihad yang paling utama adalah melakukan amar ma’ruf wa nahi munkar jika ada pemimpin yang tidak sesuai dengan syarat dalam Islam beliau bersabda, “Seutama-utamanya jihad adalah kalimat yang benar kepada penguasa yang zhalim”(HR Ibnu Majah, Ahmad, At-Thabrani, Al-Baihaqi dan An-Nasai). Hadits yang lain, “Penghulu para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthallib dan seorang yang bangkit menuju imam yang zhalim, memerintahkan dan melarang sesuatu lalu ia dibunuh”(HR Al-Hakim)
Wahai Ikhwan dan Akhwat yang dirahmati Allah!
Ciri kedua pemimpin yang tidak amanah adalah mementingkan diri sendiri, keluarga dan kelompoknya. Jika pemimpin yang amanah melaksanakan segala kepemimpinannya untuk semua rakyat dan bangsanya, maka pemimpin yang tidak amanah melakukannya hanya untuk diri sendiri, keluarga dan kelompoknya. Ia tidak menegakkan keadilan bagi seluruh rakyatnya. Ia juga tidak mengembangkan kekayaan negeri untuk kepentingan rakyatnya, tetapi untuk kepentingan diri sendiri, keluarga dan kelompoknya saja, bahkan bila perlu dengan mengorbankan rakyat dan negaranya. Na’udzu billah min dzalika.
Ciri ketiga adalah berlaku zhalim. Pemimpin yang tidak amanah bersifat zhalim. Dia melaksanakan kepemimpinan itu bukan untuk melaksanakan amanah, melainkan untuk berkuasa dan memiliki segala kekayaan negeri sehingga dapat berbuat zhalim kepada rakyatnya. Yang dipikirkan adalah kekuasaannya dan fasilitas dari kekuasaan itu, tidak peduli rakyat menderita dan sengsara bahkan tidak peduli tumpahnya darah rakyat karena kezhalimannya.
Rasulullah saw bersabda:
إنها ستكون عليكم أمراء من بعدي يعظون بالحكمة على منابر فإذا نزلوا اختلست منهم وقلوبهم أنتن من الجيف فمن صدقهم بكذبهم وأعانهم على ظلمهم فليس مني ولست منه ولا يرد علي الحوض ومن لم يصدقهم بكذبهم ولم يعنهم على ظلمهم فهو مني وأنا منه وسيرد علي الحوض
“Sesungguhnya akan datang di tengah-tengah kalian para pemimpin sesudahku, mereka menasihati orang di forum-forum dengan penuh hikmah, tetapi jika mereka turun dari mimbar mereka berlaku culas, hati mereka lebih busuk daripada bangkai. Barang siapa yang membenarkan kebohongan mereka dan membantu kesewenang-wenangan mereka, maka aku bukan lagi golongan mereka dan mereka bukan golonganku dan tidak akan dapat masuk telagaku. Barang siapa yang tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak membantu kesewenang-wenangan mereka maka ia adalah termasuk golonganku dan aku termasuk golongan mereka, dan mereka akan datang ke telagaku.” (H.R. At-Thabrani)
Wahai Ikhwan dan Akhwat yang dirahmati Allah!
Ciri keempat adalah menyesatkan umat. Pemimpin yang tidak amanah akan melakukan apa saja untuk menyesatkan umat. Misalnya, dengan kekayaannya yang diperoleh secara zhalim membeli media masa untuk menjadi ‘corongnya’. Pemimpin seperti ini adalah pemimpin yang berbahaya, bahkan lebih berbahaya dari Dajjaal –laknatullah-. Rasul saw bersabda:” “Selain Dajjaal ada yang lebih aku takuti atas umatku; yaitu para pemimpin yang sesat” (HR Ahmad).
Ciri kelima adalah membuat dan rusak dan hancur seluruh tatanan sosial masyarakat. Pemimpin yang tidak amanah akan mengakibatkan kerusakan dan kehancuran. Salah satu bentuknya adalah menjadi dominannya seluruh bentuk kemaksiatan, seperti kemusyrikan, sihir dan perdukunan, zina dan pornografi, minuman keras dan Narkoba, pencurian dan korupsi, pembunuhan dan kekerasan, dll.
Rasulullah saw. bersabda:
يخرج في آخر الزمان رجال يختلون الدنيا بالدين يلبسون للناس جلود الضأن من اللين ألسنتهم أحلى من العسل وقلوبهم قلوب الذئاب يقول الله: أبي يغترون أم علي يجترئون فبي حلفت لأبعثن على أولئك منهم فتنة تدع الحليم منهم حيران.
“Akan muncul di akhir zaman lelaki yang memanipulasi agama untuk kepentingan dunia, mengenakan pakaian yang halus-halus, lidah mereka lebih manis daripada madu tetapi mereka berhati serigala. Allah berfirman, ”Apakah kepada-Ku mereka sombong atau, kepada-Ku mereka berani. Atas nama-Ku mereka bersumpah. Maka akan ditimpakan kepada mereka fitnah, yang membuat orang-orang pandai jadi kebingungan” (H.R. Tirmidzi)
Wahai Ikhwan dan Akhwat yang dirahmati Allah!
Dengan demikian kita harus memunculkan pemimpin yang adil, yaitu pemimpin yang senantiasa menegakkan keadilan dan berbuat untuk kemaslahatan rakyatnya di dunia dan di akhirat. Kita harus berjihad untuk sebuah proses lahirnya pemimpin yang adil. Kita harus menyiapkan ibu-ibu yang akan mencetak pemimpin yang adil. Kita juga harus menyiapkan sarana untuk terciptanya pemimpin yang adil, Dan akhirnya kita harus berdakwah, beramar ma’ruf nahi munkar agar mendapatkan pemimpin yang adil.
“Dan kamu semua adalah pemimpin dan kamu semua akan diminta pertanggungjawabannya atas kepemimpinan itu”. Umar bin Khathab r.a. berkata: Jika ada seekor keledai yang jatuh di Irak, maka aku akan ditanya di hadapan Allah Taala, kenapa engkau tidak memperbaiki jalan itu”
Doa kita adalah doa yang diabadikan dalam Al-Qur’an:
"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa”.
Rasulullah saw, bersabda:
Ada tujuh kelompok yang akan mendapat perlindungan Allah di hari yang tiada perlindungan, kecuali perlindungan Nya: Imam yang adil….(Muttafaq ‘alaih)
"يوم من إمام عادل أفضل من عبادة ستين سنة، وحد يقام في الأرض بحقه أزكى فيها من مطر أربعين عاماً".
“Sehari bersama imam yang adil lebih baik dari ibadah seorang lelaki selama 60 tahun. Dan hukum hudud yang ditegakkan di muka bumi dengan benar lebih bersih dari hujan yang turun selama 40 tahun” (H.R. At-Thabrani dan Al-Baihaqi)
ثلاثة لا ترد دعوتهم: الإمام العادل، والصائم حين يفطر، ودعوة المظلوم
Tiga kelompok yang tidak ditolak doanya: Imam adil, orang yang berpuasa sampai berbuka dan doa orang yang tertindas” (H.R. Ahmad, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
أحب الناس إلى اللّه وأقربهم منه مجلساً يوم القيامة: إمام عادل، وأبغض الناس إلى اللّه يوم القيامة، وأشدهم عذاباً: إمام جائر
“Manusia yang paling dicintai Allah dan yang paling dekat kedudukannya di hari kiamat adalah imam yang adil. Dan manusia yang paling dibenci Allah dan paling keras azabnya adalah imam yang zhalim” (H.R. Ahmad, At-Tirmidzi dan al-Baihaqi)
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ - والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
PARADIGMA BARU DA’WAH KAMPUS
Integralitas Da’wah Kampus Untuk Mewujudkan UGM Darussalam
Li kulli marhalatin ahdafuha, li kulli marhalatin rijaluha (dalam setiap tahapan da’wah memiliki tujuan dan rijalnya masing-masing). Masa transisi bangsa ini telah memberikan pengaruh terhadap dinamika dakwah kampus. Tuntutan akademis, meningkatnya biaya pendidikan, karakter mahasiswa yang semakin hedonis, munculnya berbagai harokah da’wah dan semakin menurunnya energi pergerakan mahasiswa turut memberikan warna tersendiri dalam denyut nadi da’wah kampus. Perubahan itu ternyata mengalir ke berbagai kampus dibelahan bumi nusantara. Oleh karena itu dakwah kampus harus mampu menjawab tuntutan zaman yang terus berubah. Perubahan itu mengharuskan dakwah kampus segera berbenah dan bermetamorfosa agar tak tergilas oleh roda zaman itu sendiri.
Dakwah kampus yang sedang mengalami transisi zaman tidak membutuhkan perubahan yang sifatnya parsial, tetapi ia membutuhkan perubahan yang besar dan berkelanjutan disemua sayap da’wahnya. Oleh karena itu, transisi dakwah kampus akan sulit dilewati ketika para pelakunya tidak memiliki akal-akal besar dan paradigma baru dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada.
Penyakit Umat dalam Da’wah
Sebenarnya da’wah Islam tidak pernah berhenti (karena itu Sunnatullah), akan tetapi barangkali ia tidak begitu efektif dalam melakukan perubahan. Bahkan, kadang yang terjadi justru hasilnya malah kontra produktif dengan da’wah itu sendiri. Mengapa malah demikian? Sebenarnya, muasal dari itu semua bersumber pada sikap individual (infirodi) pelaku da’wah. Penyakit ini lantas menjadi sebuah sikap. Sikap dan pendirian ini kemudian mempengaruhi maknawiyah (mental) dan aktivitasnya.1
Pun demikikan dalam da’wah kampus. Selama ini SKI (Sie Kerohanian Islam) yang ada di setiap fakultas-fakultas di UGM (ataupun di Universitas yang lain) seringkali melakukan kerja-kerja yang malah memperlemah da’wah itu sendiri (kalau tidak boleh dibilang menghancurkan). Banyak langkah-langkah yang mereka ambil tanpa didasari oleh maknawiyah dan aktivitas-aktivitas yang kuat sehingga cenderung memperlihatkan gejala-gejala individualis (infirodi) itu sendiri.
Sikap emosional yang sering ditunjukkan ketika menanggapi sebuah permasalahan membuat anggapan bahwa seorang da’i kurang begitu memahami arti pentingnya sebuah keteladanan. Sikap gegabah tersebut yang malah membuat batu bumerang bagi da’i untuk bersikap (mencitrakan diri kita) sebagai seorang tauladan bagi orang di sekitar kita. Citra Islam yang seharusnya dibangun atas dasar keteladanan ternyata malah dibuat negatif oleh da’i-da’i yang sering berbuat kekeliruan.
Dari segi aktivitas yang dilakukan sering pula menunjukkan kegamangan dalam bersikap. Dalam membuat perbaikan terkadang masih bersifat tambal sulam. Hal ini disebabkan berbagai keterbatasan yang ada pada individu. Betapapun hebatnya, sebagai manusia, seorang da’i tidak bebas daei kekurangan. Baik aspek kemampuan maupun usia. Da’wak tambal sulam yang demikian tidak akan membuahkan hasil. Energinya akan habis percuma karena belum selesai parbaikan pada satu sisi, kerusakan terjadi di tempat yang lain. Belum selesai perbaikan pada bagian yang kedua, bagian pertama yang kemarin sudah mulai usang.2
Integralitas Da’wah Kampus
Da’wah yang merupakan proses besar dan berat ini tidak mungkin dilakukan secara individual. Sebab, tiap-tiap diri tidak bebas dari kekurangan. Namun betapa pun kecilnya dan terbatasnya individu, da’wah akan menjadi besar dan kuat dalam amal jama’i.3
Di dalam sebuah lembaga SKI dimasing-masing fakultas tentu ada kelebihan dan kekurangan dalam setiap gerak da’wahnya. Sehingga perlu adanya sinergitas antar setiap SKI untuk mengonsep sebuah sistem da’wah yang ideal di kampus. Gerakan integral yang dibangun atas dasar kefahaman akan menghasilkan langkah-langkah yang terstruktur untuk mencapai tujuan-tujuan da’wah di kampus. Ibarat sebuah tubuh yang saling berikatan satu sama lain tentu akan lebih mudah untuk menggerakkannya. Setiap lini yang ada saling melengkapi dalam bangunannya hingga tercipta landasan awal untuk mewujudkan UGM Darussalam.
Paradigma Baru Dalam Da’wah Kampus
Da’i yang menjadi pelaku da’wah kampus seharusnya memiliki paradigma tersendiri dalam mengemban misi da’wah ini sehingga dapat terwujud masyarakat yang islami di kampus. Salah satu tujuan dari dakwah kampus itu sendiri adalah dengan memperbanyak orang sholeh yang nanti akan mengisi ruang-ruang yang ada di masyarakat (yang bertindak sebagai tokoh di sana) sehingga tercipta sebuah sistem yang islami di masyarakat.
Sebuah peradaban islami (madani) di masyarakat menjadi sebuah cita-cita yang selama ini dirindukan oleh umat. Teringat pada masa lalu bahwa Islam pernah berjaya di masa kepemimpinan Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam di Madinah yang itu menjadi sebuah contoh yang nyata bahwa sistem islam menjadi aturan yang diterapkan di sebuah negara yang itu menciptakan peradaban yang gemilang. Tercipta ketentraman dan keadilan di dalamnya, tersuguhkan suasana yang harmonis di dalam masyarakat, sehingga menjadikan idaman bagi setiap umat untuk mengulanginya.
Kejayaan Islam adalah sebuah kepastian dan itu adalah janji Allah ta’ala. Namun yang perlu kita pahami sekarang adalah dimana posisi kita saat itu? Ketika Islam berjaya apakah kita ikut berkontribusi dalam pencapaiannya?
Risalah da’wah yang dibawa Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam dan para sahabat yang itu diwariskan oleh orang-orang yang memiiki semangat juang tinggi untuk menegakkan agama Allah di muka bumi ini. Beberapa hal yang ini merupakan tahapan-tahapan atau ruang-ruang da’wah yang menjadi patokan bagi da’i-da’i kampus untuk ikut berkontribusi dalam mewujudkan UGM Darussalam. Tidak lepas dari itu semua kejayaan ISLAM yang selama ini diimpi-impikan itu menjadi kenyataan.2
Ruang pertama, Meretas Jalan Kebangkitan Islam. Gerakan da’wah ini teristimewakan dengan beberapa karakteristik yang membedakannya dari da’wah-da’wah lainnya. Karakteristik itu bukan hanya sekedar formalitas, akan tetapi merupakan ekspresi inti fikrah yang mendasari proyek besar kebangkitan Islam yang membawa da’wah menuju kejayaannya.
Melalui da’wah dan jihad agama ini diperjuangkan. Insya Allah da’wah akan menggapai kejayaan, keagungan, dan kepemimpinan dunia. Hal itu hanya dapat dicapai dengan keikhlasan dalam berjuang, keteguhan menghadapi ujian, kekuatan menghadapi tantangan, keteladanan dalam beramal, keberanian dalam megambil keputusan, kecerdasan dalam bersiasat dan kesabaran dalam meraih kemenangan.
Ruang kedua, Tahapan Amal Da’wah dan Teori Kebangkitan. Dalam berbagai risalahnya Ustadz Hasan Al-Banna menjelaskan tentang tahapan amal da’wah, agar Islam menemui era kejayaannya kembali hingga tidak ada lagi fitnah dimuka bumi ini.
”Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan agama itu semata-mata hanya milik Allah….” (Q.S : Al-Baqarah : 193).
Dalam risalah ”Bainal amsi wal yaum” yang ditulis oleh Mursyid ’Aam pertama Al-Ikhwan Al-Muslimun, dengan jelas mengejawantahkan tahapan itu dalam dua tahapan besar.
a. Tujuan jangka pendek yang mencakup perbaikan individu, membina keluarga Islami, dan membentuk masyarakat Islami.
b. Tujuan jangka panjang yang meliputi memperbaiki pemerintahan, membebaskan negeri muslim dari penjajahan asing, tegaknya daulah dan Kekhilafahan Islam, dan kepemimpinan dunia.
Jika kita lihat di sini ada beberapa tahapan yang sering dikenal dengan marotibul amal. Dan setiap tahapan itu memiliki jenjangnya dan setiap jenjangnya parlu adanya evaluasi-evaluasi setiap capaian-capaian da’wah yang berhasil dicapai.
Ruang ketiga, Paradigma Baru Da’wah Kampus. Tantangan dan tuntutan zaman menghendaki da’wah ini harus terus berjalan di semua sisinya baik secara struktural maupun kultural dan integral di seluruh dimensi, serta putaran amalnya. Da’wah kampus berhadapan dengan berbagai dimensi kehidupan. Sebagaimana sifat dasarnya, Islam bersifat syamil (menyeluruh) dan mutakamil (sempurna). Oleh karena itu da’wah kampus merupakan motor besar kaderisasi yang akan mensuplai alumninya untuk memasuki seluruh sendi-sendi kehidupan.
Untuk menjawab berbagai tantangan dan tuntutan zaman, aktifis da’wah harus membekali dirinya untuk melakukan mobilitas da’wah baik secara vertikal maupun horizontal. Jika mobilitas horizontal bertujuan untuk mempersiapkan masyarakat Islami, maka mobilitas vertikal bertujuan untuk mempersiapkan sekaligus menerapkan kehendak-kehendak Allah SWT kedalam sistem kenegaraan. Sebagaimana Rasulullah SAW telah mempersiapkan terlebih dahulu masyarakat yang menerima konsep Islam, sampai akhirnya mendirikan sebuah institusi politik, yaitu negara Madinah. Ada tiga kunci utama yang harus dimiliki oleh para kader da’wah dalam melakukan mobilitas vertikal maupun horizontal. Ketiga kunci itu adalah kredibilitas moral, kredibilitas sosial dan kredibilitas profesional. Jika ketiga kapasitas ini dimiliki oleh kader da’wah, maka insya Allah da’wah akan diterima dimanapun dan kapanpun kita berada.
Ruang kempat, Memahami Medan Amal Da’wah Kampus. Da’wah kampus dengan berbagai karakter dan dinamikanya harus mampu mengoptimalkan peran dan fungsinya sebagai marhalah yang mencetak SDM baik secara kuantitas maupun kualitas. Pembentukan kuantitas kader dapat dilakukan dengan memperluas sarana rekrutmen, dan pembentukan kualitas kader dilakukan melalui tadrib wa taujih al amal (pelatihan dan pengarahan kerja di berbagai amal da’wah kampus). Amal da’wah kampus harus kita pahami secara integral agar tidak terjadi disorientasi dalam da’wah kampus dan ashobiah antar lini da’wah.
Dalam sirah nabawiyah dijelaskan tentang kisah hijrah nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Kisah itu memberikan pelajaran kepada kita tentang kolektifitas dan integralitas amal serta kecerdasan akal yang saling bersatu padu hingga menuai kesuksesan gemilang untuk perkembangan da’wah Islam dimassa depan. Da’wah kampus pun harus mengambil pelajaran berharga dalam mengelola dinamika dan strategi kerjanya. Setiap kader harus memahami pembagian amal da’wah bukan untuk bekerja secara parsial, akan tetapi hal tersebut bertujuan untuk pembagian fokus kerja agar roda da’wah ini berjalan secara profesional dan sinergis. Sebagaimana Rasulullah SAW membagi medan amal kepada Abu bakar, Abdullah, Asma dan Amir, keempatnya mampu bekerja secara optimal dalam melakukan pembagian peran untuk meyelamatkan Rasulullah SAW dari pengejaran kafir Quraisy dan selanjutnya Islam berkembang sangat cepat di Madinah.
Aktivis da’wah kampus harus melakukan harmonisasi sebagai upaya mengoptimalkan potensi masing-masing lini da’wah dan mengefektifkan sinergi antar lembaga. harmonisasi mencakup pembagian atau kerjasama peran, bidang garap, isu, obyek da’wah dan hal-hal lain, sehingga tercegah kondisi tumpang tindih, kesenjangan atau saling memperlemah antar elemen da’wah kampus.
Ruang kelima, Sukses Mengelola Da’wah Kampus. Da’wah kampus sejatinya tidak akan pernah berdiri tegak ketika terjebak dengan putaran zaman. Hal ini menuntut perubahan dan penyesuaian diri dengan kebutuhan ummat dan kondisi terkini. Perubahan mendasar yang dinantikan akan terjadi apabila aspek-aspek terkait dalam kultur da’wah kampus mulai berbenah.
Perubahan, kata ini seolah menjadi kunci dari mandeknya aktualisasi da’wah kampus dewasa ini. Perubahan tentu saja membutuhkan berbagai macam sarana. Salah satunya adalah struktur-organisasi dan perangkat-perangkatnya. Kalau kita telaah lebih dalam, sesungguhnya keberadaan tandzim/organisasi itu tidak lebih dari sebuah upaya untuk mensistematiskan proses perubahan itu sendiri. Tujuannya jelas, agar perubahan mampu terwujud secara tepat dan akurat. Agar perubahan itu mampu menjadi semacam obat penawar dan bukan sengat yang melumpuhkan.
Oleh karenanya, tandzim/organisasi menentukan dan membuat berbagai fungsi dan alat, agar perubahan yang diinginkan tercapai dalam jangka waktu tertentu. Tapi akan menjadi masalah ketika fungsi dan alat itu tak dipahami dengan baik, pada akhirnya yang terjadi adalah disorientasi. Akibatnya, perubahan dan prosesnya seolah-olah berkutat dan berputar hanya pada tingkat wacana dan ide semata, tapi sebenarnya kita telah terbiasa dengan kerja perencanaan. Kerja yang senantiasa kita orientasikan jauh kedepan dalam jangka waktu yang panjang.
© Free Blogger Templates Skyblue by Ourblogtemplates.com 2008
Back to TOP