Bahasa Aceh Terancam Punah

>> Selasa, 03 Februari 2009

Keberadaan bahasa Aceh terancam punah. Pasalnya, rata-rata orang tua di perkotaan jarang mengajarkan bahasa tersebut kepada anak-anaknya. Faktor lain, minimnya guru yang mampu mengajarkan bahasa Aceh dengan baik dan benar.

Ancaman itu mencuat dalam workshop Seni Budaya dan Adat Aceh, Sabtu (8/9), di Guest House, Meligoe Gubernur Provinsi Aceh. Kegiatan itu diselenggarakan Yayasan Sambinoe.

“Di jalur pendidikan pun, hanya level sekolah dasar (SD) dan kelas satu sekolah menengah pertama (SMP) yang ada pelajaran bahasa Aceh. Sedangkan kelas berikutnya hingga sekolah menengah atas (SMA) tidak ada,” ungkap Cut Fatma, Sekretaris Yayasan Sambinoe.

Dia mengusulkan, perlu iklim yang mendukung siswa agar tertarik mempelajari bahasa Aceh. Sebab, keberlangsungan bahasa daerah tersebut saat ini berada dalam tingkat mengkhawatirkan.

Dia juga mengimbau pemerintah, meningkatkan kurikulum bahasa daerah. “Dalam hal ini bahasa Aceh. Tujuannya untuk melestarikan peninggalan budaya,” cetus dia.

Saifuddin Mahmud, Dosen Bahasa Aceh FKIP Unsyiah, mengajurkan semua pihak menggunakan bahasa sesuai pada tempatnya. Tujuannya untukmenjaga pelestarian bahasa tersebut. “Gunakan bahasa daerah kepada sesama pemakai bahasa itu. Sebab, fungsi bahasa daerah sebagai lambang kebanggaan daerah,” ujarnya.

Ia menyebutkan, sangat sedikit dosen di perguruan tinggi, mau mengajar bahasa Aceh. Demikian juga dengan kurikulumnya. “Hingga saat ini, hanya satu orang pengajar bahasa Aceh di Unsyiah,” imbuh dia.

Drs Anas M Adam, Kepala Dinas Pendidikan Aceh, mengatakan penambahan jam pelajaran per minggu untuk bahasa daerah/Aceh, dianggap cukup. Anas menekankan kefasihan berbahasa daerah itu perlu dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Dia mencontohkan, perlu digalakkan acara kesenian Aceh seperti pembacaan hikayat, agar generasi muda Aceh mengenal budaya dan bahasanya sendiri.

Selain itu, “Lingkungan keluarga juga berpengaruh. Hendaknya membiasakan anak memakai bahasa Aceh,” ajaknya.

Di sisi lain, Anas menyoroti keragaman bahasa daerah di Provinsi Aceh. Ia menyebutkan perbedaan bahasa Aceh dengan bahasa Gayo, Alas, Simeulue, Singkil, dan sebagainya.

“Dengan perbedaan ini, akan menyulitkan pengadaan bahan ajar. Metode pengajaran bahasa yang ada saat ini sudah ketinggalan zaman. Alasan Dinas Pendidikan memberikan porsi pelajaran bahasa daerah untuk SD karena usia tersebut lebih mudah menyerap bahasa,” katanya

1 komentar:

Anonim 3 Februari 2009 pukul 09.03  

foto kw maen x.. hahaha..

peternakan coy

peternakan coy
susu

About This Blog

Lorem Ipsum

  © Free Blogger Templates Skyblue by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP